Waspadalah, Ini Ancaman Bagi Bisnis yang Sudah Mapan

Sebagai seorang pengusaha, kamu dituntut untuk terus berfikir setiap hari demi keberlangsungan bisnis agar tetap berjalan dengan stabil. Jangan merasa bahwa bisnis sudah mapan kemudian kamu menurunkan tensi berfikir. Karena kamu harus tetap mewaspadai adanya ancaman bagi bisnis yang sudah mapan sekalipun.

Apa sih kriteria bisnis yang sudah mapan itu? Apakah yang sudah mampu menopang kebutuhan ekonomi keluargamu atau selalu meningkatkan jumlah depositomu? Bisnis mapan pada umumnya memiliki kriteria sebagai berikut :

  • Sudah memiliki karyawan berjumlah puluhan orang
  • Memiliki omset setidaknya Rp 3 milyar setahun
  • Sudah memiliki sistem yang berjalan dan memiliki manajer-manajer yang berkualitas untuk turut mengontrol bisnis

Tapi ketika bisnis kamu sudah mapan, apakah kamu lantas bisa santai dan menikmati hasil kerja keras kamu? Belum tentu. Karena ketika bisnis kamu mapan, ada beberapa hal yang berpotensi menjadi ancaman.

Jika hal-hal tersebut tidak kamu sadari sesegera mungkin, maka bisa jadi hal tersebut malah merusak dan menghancurkan bisnis kamu. Apa saja sih ancaman bagi sebuah bisnis yang sudah mapan?

Merasa Kerja Keras Saja Sudah Cukup

Kerja keras

Kebanyakan ketika bisnis sudah mulai mapan, orang-orang mulai merasa tidak perlu lagi belajar hal baru, tidak perlu lagi evaluasi. Merasa kerja kerasnya sudah cukup, jadi malas untuk menganalisa bisnisnya dan mencoba menemukan kekurangan dalam bisnisnya.

Padahal, kerja keras saja tidak cukup untuk bisa membuat bisnis kamu maju. Yang terpenting adalah kerja benar. Mungkin kamu dulu berpikiran bahwa kerja keras seperti yang kamu lakukan saat mengawali bisnis itu sudah cukup.

Padahal, di level bisnis yang lebih mapan, kamu diwajibkan untuk “bekerja dengan benar” supaya kamu bisa bekerja dengan lebih efisien. Jadi tidak sekedar bekerja keras saja, tapi juga harus bekerja dengan benar.

Baca juga: 10 Langkah Sederhana Membuat Bisnis Plan

Sibuk Mencari Orang yang Mirip Kamu

Apapun alasannya, biasanya entrepreneur selalu sibuk mencari orang yang memiliki karakteristik dan kemampuan yang sama dengan dirinya. Biasanya nanti akan dipergunakan untuk mengisi jabatan sebagai direktur.

Padahal mencari orang yang memiliki kemampuan dan karakteristik yang sama persis dengan kamu itu sebenarnya kurang dibenarkan. Karena jika kamu terus sibuk mencari atau merekrut orang yang sama persis seperti kamu, maka kamu akan dipusingkan dengan masalah gaji dan insentif yang diminta.

Karena sudah jelas, mereka akan menuntut banyak gaji dan fasilitas karena merasa memiliki kompeten paling unggul dibanding pegawai lainnya.

Belum lagi jika suatu saat orang tersebut meninggalkan kamu, kamu akan kelimpungan lagi mencari penggantinya.

Lebih baik kamu menciptakan sebuah sistem manajemen yang terdiri dari beberapa orang manager tapi mampu menjalankan bisnis kamu ketimbang mencari satu orang yang unggul sebagai direktur tapi berisiko meninggalkan kamu di kemudian hari.

Atau melakukan rekruitment pada fresh graduate yang mau belajar, lakukan pendampingan intensif dan sesekali buat sebuah training yang dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan. Dengan sistem yang baik dan orang yang kompeten maka sebuah bisnis bisa berjalan sesuai yang kamu inginkan.

Tidak Mau Berinovasi

Inovasi

Merasa bisnisnya sudah mapan kemudian jadi malas berinovasi. Lalu kamu baru menyadarinya disaat sudah didepak oleh pesaing kamu yang lebih inovatif dan kreatif.

Tahu-tahu trend market berubah, tapi kamu masih berkutat dengan cara lama. Jika sebuah bisnis tidak mampu berinovasi, maka siap-siaplah untuk mengalami kehancuran tiba-tiba.

Perlu diingat, segala sesuatu didunia ini tidak ada yang pasti, semuannya pasti berubah kecuali kematian dan pajak. Kalau kamu cermati perusahaan yang ternama di indonesia dan di amerika, perusahaan yang profitable, mereka tidak pernah puas dengan keadaan bagus.

Malahan kalau semua bagus, ceo nya biasanya khawatir. Kenapa khawatir? Karena mereka sadar bahwa jika semua bagus dan tidak ada yang salah, berarti perusahaan tersebut tidak berani dan tidak cukup cepat berinovasi untuk menghadapi persaingan.

Sering sekali pengusaha mulai berubah ketika keadaan bisnis sudah jelek dan biasanya sangat susah untuk merubah situati karena ‘nasi sudah jadi bubur’.

Tetapi justru perusahaan terbaik bisa naik ke tingkat selanjutnya adalah selalu mencari cara untuk lebih baik lagi yaitu dengan cara berinovasi terus menerus.

Tidak Fleksibel Dalam Menghadapi Perubahan Trend Bisnis

Michael Porter, seorang Profesor manajemen strategik dari Harvard University menyatakan, terdapat lima hal yang bisa mempengaruhi perubahan tren dalam dunia bisnis global, yaitu :

Ancaman dari pendatang baru ( threat of new entrants ). Pendatang baru dapat membahayakan perusahaan-perusahaan yang telah ada, karena menghasilkan kapasitas produksi tambahan, dimana kapasitas tambahan ini akan menekan agar biaya bagi pembeli rendah, yang mengakibatkan turunnya penjualan dan laba bagi perusahaan yang ada dalam industri tersebut.

Seringkali pendatang baru memiliki sumber daya dalam jumlah besar dan memiliki kemauan yang kuat untuk memperoleh pangsa pasar.

Ancaman dari produk pengganti ( threat of substitute products ). Apabila harga yang ditawarkan produk pengganti tersebut akan lebih murah/rendah dan mutu serta kemampuan kinerja produk pengganti tersebut sama atau melebihi dari produk sebelumnya.

Kekuatan tawar-menawar dari pemasok ( bargaining power of suppliers ). Pemasok merupakan ancaman serius bagi perusahaan-perusahaan, jika berintegrasi ke depan ke arah industri pembeli. Misalnya, produsen pakaian yang memilih untuk membuka toko pakaian sendiri, sehingga menjadi ancaman bagi toko pakaian yang lain, terutama bagi toko yang dulu membeli pakaian dari produsen tersebut.

Kekuatan tawar-menawar dari pembeli ( bargaining power of buyers ), dimana pembeli lebih suka membeli produk dengan harga serendah mungkin. Hal ini mengakibatkan industri dapat memperoleh pengembalian ( laba ) serendah mungkin. Pembeli akan menuntut kualitas yang lebih tinggi, pelayanan yang lebih baik serta harga yang murah, dimana hal ini mendorong persaingan antar perusahaan dalam suatu industri.

Persaingan kompetitif di antara anggota industri ( rivalry among competitive firms ), dimana perusahaan bersaing secara aktif satu dengan lainnya untuk mencapai daya saing strategis dan laba yang tinggi.

Pencapaian hal-hal tersebut, menuntut keberhasilan yang relatif terhadap para pesaing, dengan demikian persaingan yang terjadi antara perusahaan-perusahaan tersebut distimulasi pada  saat satu  atau lebih perusahaan merasakan tekanan persaingan atau apabila mereka mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan posisi pasar mereka.

Karena perusahaan-perusahaan dalam industri bergantung satu sama lain, tindakan satu perusahaan seringkali mengundang reaksi dari pesaingnya.

Mencoba Meninggalkan Bisnis Padahal Sistem Belum Teruji

Bisnis yang sudah mapan biasanya sudah memiliki sistem yang membuat bisnis tersebut berjalan. Tapi bukan mentang-mentang sudah ada sistemnya, kamu lantas bisa meninggalkan bisnis kamu sesuka hati.

Kamu tetap harus berada di dalam bisnis kamu, untuk menguji apakah sistem yang kamu bangun benar-benar berjalan atau tidak. Jika sudah terbukti dan teruji, barulah kamu bisa meninggalkan bisnis kamu untuk kepentingan lainnya.

Banyak perusahaan indonesia terancam gagal dan mungkin tidak bisa bertahan untuk 5 tahun kedepan. Mengapa bisa begitu? Karena ancaman-ancaman ini kadang sudah sangat jelas didepan mata tetapi banyak yang tidak menyadarinya.

Tetapi memang begitulah manusia, kadang kita tidak bisa mengetahui atau melihat seluruh ancaman, apalagi di dalam bisnis.

Baca juga: Ini Dia, Peluang Usaha Terbaik dan Paling Menjanjikan di Tahun Ini

Itulah ancaman bisnis yang sudah mapan, bila ancaman itu tidak kita perhatikan bisa bisa bisnis yang sudah kita perjuangkan dari awala akan berakhir sia-sia. Jadi jangan lengah karena keberhasilan bisnis yang sudah kita raih.