Bisnis Bumbu Dapur Yang Gak Ada Matinya, Cobain Kuy

Kenapa bisnis bumbu dapur tidak akan pernah mati? Karena memasak adalah aktifitas sehari-hari yang selama masih ada kehidupan maka memasak adalah pasti.

Aktifitas memasak pasti membutuhkan bumbu dan kini bumbu dapur instan menjadi tren di kalangan ibu rumah tangga. Ini adalah peluang bagi sobat bisnis.blog yang punya waktu kosong dan terampil dalam meracik aneka bumbu masakan.

Bisnis ini bisa dimulai dengan modal hanya seratus ribu saja untuk membeli bahan bumbu mentah kemudian diracik untuk menjadi bumbu instan.

Bumbu instan tersebut bisa dibuat sesuai dengan masakan, misal bumbu rendang, bumbu rawon, bumbu soto, dan sebagainya.

Target market dari bumbu instan ini sangat luas yaitu anak kos, ibu rumah tangga, usaha katering, usaha restoran, atau bagian katering perkantoran.

Berikut kami sajikan analisis potensi bisnis bumbu dapur yang gak akan ada matinya, mari kita simak penjelasan berikut ini:

1. Potensi Market

Market

Sudah dibahas singkat tentang potensi market yang sangat luas, karena setiap rumah pasti membutuhkan bumbu untuk memasak dan bumbu instan merupakan solusi untuk ibu rumah tangga yang sibuk dan tidak ada banyak waktu untuk mengupas bawang, mengiris cabe, dan mengulek aneka bumbu.

 Apalagi bagi pasangan muda yang sebagian dari mereka bahkan tidak bisa memasak mi instan seperti dindahw, keberadaan bumbu instan pasti sangat membantu performa mereka untuk melayani menyajikan masakan yang endolita.

2. Produk Jelas

Jika kamu tulis dalam kemasan bahwa itu adalah bumbu rendang, siapa lagi yang akan bertanya tentang rendang itu apa atau bagaimana menggunakan bumbu ini.

Semua orang sudah tahu untuk masakan apa bumbu itu dibuat dan bagaimana cara menggunakannya. Kamu tidak perlu berbusa-busa menjelaskan tentang kandungan dan manfaat produk tersebut.

Dengan produk yang sudah jelas ini maka akan membuat proses pemasaran akan lebih mudah, kemudian yang harus kamu perhitungkan adalah bagaimana pengemasan, distribusi, pemasaran dan promosi agar lebih dikenal oleh banyak orang.

Oleh karena itu perlu disusun langkah yang tepat untuk dari berbagai aspek tersebut agar bisa mendapatkan pangsa pasar yang luas.

Baca: Bisnis Layanan Pesan Antar dan Tips Menjalankannya

3. Bahan Baku Mudah

Bawang merah, bawang putih, merica, kemiri, pala, cabai, kunir, kencur, jahe adalah contoh bahan baku bumbu masakan yang dengan mudah bisa kita dapatkan di pasar tradisional, toko kelontong, atau bahkan ada petani yang menjual langsung di postingan facebook.

Yang harus kamu perhatikan adalah harga dari bahan baku tersebut yang terkadang mengalami fluktuasi drastis hingga harganya tidak masuk akal.

Agar kamu selalu bisa mendapatkan harga bahan baku yang stabil maka usahakan agar membeli bahan baku langsung pada petani atau pihak pertama yang membeli barang tersebut dari petani.

Alur distribusi yang terlalu panjang juga beresiko menyebabkan mahalnya harga bahan baku, yang pasti akan berpengaruh juga pada harga jual produkmu.

Jika kamu bisa merawat bagaimana agar bahan baku tersebut dapat bertahan lama dalam tempat penyimpanan, sebaiknya kamu melakukan pembelian dalam jumlah besar apabila harga bahan sedang turun.

Kemungkinan hal ini terjadi ketika pasca panen dan banyak barang yang belum terjual. Jangan lupa untuk selalu memeriksa kualitas bahan, jangan hanya mencari murah tapi utamakan kualitas karena ini akan mempengaruhi rasa.

Setelah kita melakukan analisis awal bahwa bisnis bumbu dapur ini memang memiliki potensi untuk berkembang, apakah sobat bisnis.blog sudah mulai tertarik untuk memulai bisnis ini?

Untuk memulai juga butuh persiapan agar ketika produkmu akan dilaunching maka sudah menjadi produk yang siap untuk dipasarkan, bukan masih dalam tahap uji coba.

4. Nama produk

Nama produk

Bisnis apapun selalu membutuhkan nama sebagai identifikasi, gunakan nama yang berbasis kearifan lokal atau yang berkaitan dengan masakan, dapur atau sosok ibu seperti Selera Bunda, Lidah Manja, Dapur Kita, Cheff Master, dan sebagainya.

Dengan menggunakan nama produk yang berkaitan dengan masakan, maka akan lebih familiar di telinga konsumen.

5. Meracik Bumbu

Sebagai permulaan, sebaiknya fokus meracik bumbu untuk dua atau tiga jenis masakan dulu. Raciklah bumbu untuk masakan yang familiar oleh banyak orang seperti tumis, sop, sayur asem, atau nasi goreng.

Ini merupakan cara untuk melakukan riset pasar, masakan apa yang paling sering membutuhkan bumbu instan, itulah yang kamu produksi dalam jumlah yang lebih banyak meski kamu tetap harus menyediakan beberapa varian bumbu sebagai pilihan untuk konsumen.

Kamu juga harus mempelajari produk bumbu dapur yang sudah ada di pasaran, kamu bisa menemukan bahwa ada dua jenis bumbu dapur yaitu bumbu kering dan bumbu basah.

Beberapa produsen membuat bumbu kering dari setiap bahan, contohnya kemiri bubuk, cabe bubuk, jahe bubuk, atau kunir bubuk. Ada juga yang meracik bumbu kering untuk satu jenis masakan agar lebih spesifik.

Kamu juga bisa menemukan produsen bumbu basah yang biasanya dikemas dalam botol plastik atau kaca agar lebih awet.  Beberapa produsen menggunakan bahan pengawet dengan dosis kecil agar kualitas bumbu bisa bertahan hingga beberapa bulan, atau dimasak dalam suhu yang tinggi.

Baik itu basah atau kering, keduanya memerlukan perlakuan khusus untuk mendapatkan hasil yang optimal. Lakukan riset agar kamu bisa menentukan proses mana yang lebih kamu kuasai dan membutuhkan modal yang kecil.

Karena harga proses produksi juga akan menentukan harga jualmu, dan jangan sampai kamu mematok harga jual yang terlalu tinggi.

6. Kemasan Produk

Mana yang kamu pilih, kemasan plastik bening dengan nama produk dicetak di kertas HVS atau kemasan sachet aluminium foil dengan sablon atau stiker produk.

Secara psikologis, orang akan lebih percaya kualitas produk yang dikemas dengan aluminium foil meski sebenarnya isinya sama dengan yang dikemas dalam plastik bening.

Walaupun kemasan plastik bening masih jadi favorit bagi ibu rumah tangga ketika membeli di pasar tradisional.

Semua tergantung keputusan anda, apakah hanya ingin bermain di pasar tradisional atau menjangkau pasar modern dan pelanggan muda.

Jika memilih pilihan kedua, maka kamu harus mengemas produkmu sebaik mungkin, pastikan agar bisa menjaga kualitas bumbu hingga beberapa bulan ke depan. Tidak mudah bocor dan sebaiknya kedap udara.

Bagaimana sobat bisnis.blog, sudah mendapatkan sedikit pencerahan untuk bisnis bumbu dapur ini? Yakin deh gak ada matinya.

Selama ada orang memasak maka selama itulah bisnis bumbu dapur akan bertahan. Jangan lupa ceritakan pengalaman bisnismu di kolom komentar ya, siapa tahu kita bisa saling berbagi cerita untuk sobat yang lain. 

Baca juga: Peluang Bisnis Jus Buah Murni dan Cara Menjalankannya, Tertarik?